Hari-hari ini, kira-kira 1,5 bulan sebelum wapres JK tunai tugasnya di pemerintahan, tersingkap bagaimana contoh kekisruhan di manajemen pemerintahan SBY-JK selama ini. Apalagi kalau bukan soal Bank Century yang katanya berpotensi merugikan uang rakyat sebesar 5 triliun rupiah. Tampak benar adanya nuansa politis yang hendak menjatuhkan citra Boediono, sang wapres baru pasangan SBY per Oktober 2009 nanti, yang dilancarkan basis pendukung JK di DPR.

Terlepas dari niatan baik atau buruk, kita rakyat disuguhkan bagaimana uang 5 triliun dengan mudahnya akan raib. Padahal itu uang rakyat yg dihasilkan dari sepeser dua peser pembayaran pajak. Dengan sisa-sisa ‘kekuatan’nya JK terlihat sedang berusaha mengungkap secara gamblang bagaimana jalannya manajemen pemerintahan kita.

Inilah ‘perang’ pencitraan tingkat tinggi babak selanjutnya pada episode pasca pemilu pilpres. Seolah JK hendak membalas, bahwa birokrat tulen yg menggembar-gemborkan citra profesional yang jujur saat kampanye pilpres lalu, ternyata bisa juga tersandung (mungkin JK ‘sakit hati’ ketika opini publik digiring oleh kubu SBY-Boediono yang seolah hendak mengatakan kalau pelaku usaha memerintah akan dekat dengan KKN).

Sekarang terbentuklah sudah opini, selain Boediono dianggap tidak cakap mengawasi bank saat menjadi Gubernur BI, juga diaggap lembek karena tidak memperjuangkan penangkapan jajaran direksi Bank Century, sehingga harus JK sendiri sbg wapres turun tangan memerintahkan Kapolri untuk menangkapnya.

JK bagai harimau yg hendak mati dan berkehendak meninggalkan info-info yang gamblang. Dan kita sebagai rakyat hanya bisa megelus dada menyaksikan perang pencitraan ini, karena kita tahu JK pun adalah bagian dari pemerintahan SBY-JK hingga Oktober 2009 ini. (DaN)