Dari harian Kompas terbetik suatu artikel yang mengetengahkan hasil sebuah penelitian pasca pilpres. Disimpulkan bahwa pemilih Mega-Pro adalah pemilih berbasis ideologi yang loyal. Pemilih JK-Win adalah para pemilih rasionalis yang menganggap figur JK-Win bisa cepat memperbaiki kinerja pemerintahan. Sedangkan pemilih SBY-Berbudi lebih karena ketokohan SBY yang kalem, santun dan berwibawa (dan mungkin juga ganteng?).

Hasil sementara berdasarkan quick count jelas menunjukkan keunggulan SBY-Berbudi, artinya mayoritas rakyat kita tampaknya lebih senang dipimpin oleh figur “bapak” yang kalem, santun dan berwibawa, ketimbang figur JK yang mungkin dianggap lebih cocok sebagai pekerja profesional yang gesit dan Megawati yang terlihat masih lugu. Perang pencitraan masing-masing figur capres tampaknya dimenangkan oleh kerinduan rakyat pada tokoh yang sepi dalam bicara tapi ramai dalam bekerja. Apakah ini hasil dari pengaruh gaya kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun yang menancap kuat dibenak rakyat Indonesia? (DaN)