Akhir-akhir ini sering terlihat spanduk di pinggir jalan dengan tulisan yang mengajak kita menjadi vegetarian, karena – katanya – dengan menjadi vegetarian kita sudah menyelamatkan lingkungan. Hmmm, dengan berpikir keras pun saya belum mendapatkan korelasi antara menjadi vegetarian dengan penyelamatan lingkungan. Sampai suatu hari Rika mengontak saya via sms menyampaikan bahwa akhirnya ia memperoleh jawabannya. Yaitu, kotoran hewan dianggap menjadi potensi perusak ozon bumi akibat gas metana yang dihasilkannya. Secara logika iya juga sih, tapi kan gas metana dari kotoran hewan juga bisa didayagunakan sebagai energi alternatif buat menghasilkan listrik, gugat saya dalam hati. Buat saya, ajakan menjadi vegetarian ini jadi terasa berlebihan kalau alasannya buat penyelamatan bumi, tapi kalau motivasinya untuk kesehatan, itu baru ok. Alasannya, selain karena gas kotoran bisa jadi energi, kan kotoran manusia secara total di dunia ini pasti lebih banyak jumlahnya daripada kotoran sapi, kambing dan ayam. Jangan heran kalau pedagang kambing dan peternak ayam serta juragan sapi di pinggiran Jakarta berujar, “enak aja tokai hewan disalahin, urus aja dulu tokai lu pade…”, dengan logat betawi yang kental. (DaN)