Pagi tadi saya menonton TV tentang akan dilakukannya sidang isbat untuk memutuskan jatuhnya hari Idul Adha. Seperti diketahui, jangankan terjadi perbedaan tanggal peringatan hari besar Islam antara Indonesia dengan luar negri, dengan sesama muslim dalam negri pun bisa terjadi perbedaan, sesuai dengan hilal dan rukyat masing-masing. Karena tanggal Islam menggunakan perhitungan bulan, dan kelayakan terbitnya bulan yang baru masih tergantung unsur penglihatan mata, maka sangat mungkin terjadi perbedaan keputusan. Coba anda bayangkan bagaimana mau melihat kalau sepanjang hari cuaca mendung? Hari Idul Fitri tahun 2008 ini bahkan rentang perbedaannya sampai 3 hari, memang sih mayoritasnya memilih salah satu tanggal.

Pikiran kemudian menerawang dikaitkan dengan pekerjaan sebagai PR agency. Beberapa waktu lalu, klien kami hendak mengundang presiden RI saja harus memperhitungkan 2 hari kemungkinan tanggal. Itu saja konsekuensinya biaya di beberapa pos menjadi dobel. Misalnya, artis tidak mau dibayar 1 kali kalau hrs mengosongkan kegiatan lainnya untuk 2 hari.

Bayangkan kalau penentuan hari berdasarkan sidang isbat, setidaknya kita perlu 3 hari untuk sewa gedung untuk berjaga-jaga, karena bisa jatuh di tgl 1, 2 atau 3 (misalnya). Belum lagi ada 1 hari sebelumnya yang harus disewa untuk persiapan fisik. Seperti anda tahu, pihak gedung biasanya mensyaratkan setidaknya 1 minggu sebelum hari H sudah harus memberikan final konfirmasi dengan uang dimuka sebesar 50% (untuk hotel bahkan lebih dari 1 minggu), padahal sidang isbat bisa jadi dilakukan hanya 1 atau 2 hari sebelum acara yang hendak digelar. Perlu dipikirkan solusi yang cerdas menyiasati hal ini. Mudah-mudahan sejawat PR agency di negri timur tengah yang menggunakan penanggalan Islam bisa berbagi pengalamannya soal ini. Syukron ya sebelumnya. (DaN)