Ada kisah menarik yang kami dapat saat menggelar acara ‘Sunsilk Rambutmu, Kisah Hidupmu’ di Cirebon, pada 17 Agustus 2008, dengan Krisdayanti (KD) sebagai brand ambassador Sunsilk. Hari itu bertepatan dengan HUT RI ke-63 kami tidak ikut upacara bendera tujuhbelasan, rela meninggalkan lomba makan kerupuk, panjat pinang atau balap karung demi menjalankan tugas mengurus konferensi pers bersama sejumlah media Cirebon dan mengatur segala sesuatunya di Kota Udang ini. Long weekend yang mestinya dinikmati bersama keluarga, harus kami lewatkan dengan kerja. Hmmm….

Dari R&R kami berempat, dikomandani RiM, ‘ibu tangguh’ yang saat acara juga merangkap sebagai pembawa acara bahkan sebelumnya juga menjadi dekorator dadakan lantaran petugas hotel tidak sigap menyiapkan ruang yang kami perlukan untuk press conference. Mungkin dari luar dunia PR terlihat glam, hal sama yang saya lihat sebelum ikut terjun ke dunia ini. Ingat kisah ‘Gadis PR’ dalam serial Confessions of Shopaholic? Betapa di situ diceritakan dunia PR identik dengan dunia gemerlap, serba wah, dan hal-hal ‘mewah’ lainnya.

Tapi nyatanya hal itu nggak berlaku buat kami, khususnya, karena sebagai PR consultant kami dituntut untuk bisa melakukan banyak hal, mulai ‘pekerjaan kasar’ angkat dan mindahin kursi, kadang-kadang jadi dekorator, moderator atau MC bahkan jadi ‘bodyguard’ dadakan…

Bodyguard dadakan? Ya, ini terjadi saat RiM yang selalu mendampingi KD saat prescon hingga ke mall untuk manggung kena getah harus rela kepalanya kena ‘toyor’ bapak polisi lantaran diminta jalan lebih cepat. Padahal RiM yg tangannya digenggam oleh KD untuk jadi pembuka jalan, sangat sulit untuk mengatur langkah lebih cepat mengingat hak sepatu KD yg tinggi (bayangkan, KD memakai high heels 12 cm) amat sangat menyusahkan KD untuk berjalan mengikuti ritme RiM. Sebaliknya untuk RiM ini kali pertama dia punya pengalaman jadi bodyguard, jadi kebayang paniknya pasti seperti apa. Rela ‘ditoyor’, kena sikut dan mengalami suasana yang cukup menegangkan. Pengunjung yang ingin menyaksikan KD begitu membludak, Grage Mall yang nggak seberapa besar itu tumpah ruah oleh lautan manusia. Ibu-ibu yang membawa anak rela mengantri dan berpanas-panas. Anak-anak banyak yang menangis kepanasan, sementara si ibu ‘keukeuh’ ingin melihat KD dari jarak dekat. Pokoknya heboh. Aksi sikut dan dorong terjadi, layaknya orang ribut mengantri sembako!

Di balik tampilannya yang glam, KD ternyata mengaku sedikit ‘khawatir dan bangga’ melihat penonton yang begitu banyak. Meski agak ‘ngeri’ dengan antusiasme penonton, tapi KD tetap senyum dan melambaikan tangan, padahal hati kami dag dig dug sambil tahan napas, semoga nggak terjadi insiden. Kalau sampai ada insiden, siap-siap tugas kami sebagai PR akan bertambah.

Alhamdulillah, acara berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Kami semua bernapas lega. Capek tapi sebanding. Saya yang berada di barisan penonton, harus berjuang untuk bisa mendapatkan gambar KD yang oke saat dia tampil, kepala kena sikut orang, rasanya terbayar.

“Kita dapat pengalaman, pelajaran dan ilmu baru hari ini,” ujar RiM. Apakah itu? Seringkali pekerjaan kita baru dianggap sukses apabila jumlah liputan banyak, padahal hari ini dari pagi kita mengawali hari untuk melakukan persiapan banyak kendala yang harus kita hadapi dan harus dicari solusinya segera. Tadi kita angkat kursi dan geser meja juga pot karena ternyata ruang yang sudah disepakati siap jam 12 dari pihak hotel belum siap. Pakai bersitegang segala dengan pihak hotel lantaran urusan kursi yang harus diganti dengan model yang sangat biasa, maka dengan sigap pula kita jadi dekorator agar kursi dan ruang yang dipakai tetap terlihat cantik. Sore hari selesai press conference bukan berarti pekerjaan selesai, karena kita harus mengantarkan rekan-rekan media bisa menembus kerumunan penonton agar bisa masuk ke space di depan panggung yang memang khusus disiapkan untuk teman-teman media. “Bahkan di luar rencana kita pun menjadi bodyguard untuk sang Diva,” ujar RiM. Alhamdulillah semua kami lakukan dengan baik dan semua acara berjalan lancar. Hal-hal seperti inilah justru yang mengajarkan kita untuk bisa bekerja dengan hati, tidak gengsi harus angkat kursi, tidak malu harus jalan berdampingan dengan sang diva, tidak marah yang bukan pada tempatnya dan dengan ikhlas juga mau menerima permohonan maaf dari orang yang tadi sempat membuat semua persiapan acara press conference nyaris berantakan.

Sampai hari ini kami masih tetap percaya bahwa dunia PR itu bukan dunia yang glamour. Gimana dengan kamu? (EiW)