Suatu pagi di hari Minggu, saya bergegas untuk pergi ke Lapangan Polda Metro Jaya untuk suatu pekerjaan. Sengaja saya ajak seorang teman, namanya Marif. Ini kebiasaan saya kalau pergi mengandarai mobil sendiri selalu perlu teman untuk dijadikan teman ngobrol selama perjalanan, tidak peduli cuma ke pasar Mayestik yang jaraknya dekat dari rumah atau ke Bandung jarak yang paling jauh saya tempuh dengan menjadi supir. Nyaman rasanya kalau ada orang yang duduk disamping saya. Begitu juga dengan teman saya, Marif. Nyaman untuk dia adalah yang nyaman untuk orang lain. Kesimpulan itu saya temui pada saat diperjalanan, saya melihat ada perempuan berbadan besar tampak pede dengan celana pendek dan kaos ketat yang hendak berolah raga ke Senayan. Saya bicara dengan teman saya, ‘Rif lihat deh cewek itu yang pakai celana pendek yang gendut seperti saya!’…apakah saya seperti itu?, ujar saya bertanya dan penuh harap jawabanya adalah tidak. ‘Wah ya Ndak lah Bu, moso Ibu segendut itu.’ Marif biasa memanggil saya dengan Ibu, barangkali panggilan ini lebih nyaman untuk dia daripada memanggil saya dengan nama. Dalam hati saya langsung bersorak gembira ‘Alhamdulillah’ saya belum segendut itu. ‘Kalau suatu saat saya segendut itu gimana ya Rif?!….. ‘Ya asal Ibu nyaman sih tidak apa-apa. Tapi kalau saya sih tidak nyaman lihat cewek gendut’…..

‘Ahhhh….Marif jawaban kamu itu adalah kalimat yang paling sering suami saya sampaikan berulang kali ke saya, karena sudah putus asa melihat postur tubuh istrinya yang makin melar dan tidak terlihat upaya untuk diet. ‘Ibu ndak gendut kok, segini cukup. Cuma Ibu tinggal kencengin saja dengan olah raga, jadi badannya ndak gelambir,’ katanya. ‘Wah kamu makin persis kayak suami saya kalau lagi berpetuah’…..bahkan suami saya belakangan petuahnya sudah seperti ini ‘kalau itu membuat kamu nyaman ya sudah, yang penting untuk saya kamu sehat. Lah wong kamu sudah jadi client saya. Cuma lain kali kudu bilang diawal ya kalau bakal jadi kayak gini, biar yang beli ndak ketipu’, ujar suami saya dengan gaya bercanda…..gaya becanda suami saya ini membuat dia lebih nyaman untuk mengingatkan istrinya ketimbang melarang saya untuk berhenti makan coklat atau ngemil.

‘Ibu juga harus buat Bapak nyaman juga dong!….kata Maarif lagi. Wah saya sedikit tersentak dengan ucapan itu. Masa sih saya tidak bisa buat suami saya nyaman dengan keberadaan saya?!…sambil megendarai mobil saya merenung…. Kalau Marif teman saya ini yang di kantor hari-hari bertugas jadi kurir nyaman duduk di sebelah saya, nyaman mengomentari saya yang hari itu pakai jam boleh pinjem dari anak saya, nyaman menyampaikan jawaban jawaban yang jujur plus dengan kepolosan gaya bicaranya membuat saya yang mendengar juga menjadi lebih nyaman karena tidak terkesan sok tahu. Kenapa saya juga tidak bisa memberikan kenyamanan untuk orang lain?! Mudah-mudahan kamu nyaman ya Rif dipaksa bekerja di hari libur. (RiM)