Anak remaja putri saya Juli ini genap berumur 14 tahun. Chika panggilannya, yang lebih sering saya plesetkan jadi Cheko, suatu sore bilang, ‘Mah kado ulang tahun ku besok tidak usah dibelikan apa apa deh, aku cuma minta pada saat aku ultah nanti aku di telfon sama Nino, vocalis RAN.’ Saya tersentak kaget, ‘what?!.. ‘Loh kenapa emangnya, kan Mama suka urusan sama artis untuk keperluan client, masa untuk anak nya aja ndak bisa usahakan, hayo dong Ma, ujar Cheko penuh rengek. Jawaban saya saat itu, Mimpi kali ye:). ‘Ah Mama’, Chika merajuk.

Malam sebelum tidur dalam ritual doa dan perenungan tentang apa yang telah saya kerjakan hari ini, saya masukkan dalam doa saya malam itu. ‘Ya Tuhan beri saya petunjuk kepada siapa saya bisa mewujudkan keinginan putri saya. Saya ingin ia bahagia dengan kado ultahnya tersebut. Terlintas dalam pikiran, apakah keinginan mewujudkan permintaan Cheko dilandaskan pada gengsi seperti yang Chika bilang, masa untuk client bisa untuk anak sendiri tidak bisa. Tapi saya berpikir kenapa ini tidak dijadikan tantangan saja ya, sama seperti ketika saya di challenge oleh client dalam mengejar KPI (key performance indicator). Toh saya punya team untuk mencapai itu. Untuk kejutan manis Cheko saya berpkiri team saya adalah suami dan adiknya Cheko. Saya share sama mereka tapi hasil yang didapat justru membuat hati kecil saya ciut. Kata suami, ‘jangan repotin orang & manfaatkan fasilitas ya. Gue ndak demen yang kayak-kayak gini’. Hmmmm…segitunya kah. Oh ya saya lupa cerita, suami saya adalah pengelola salah satu radio swasta, radio tempat anak muda mangkal. Akses untuk bisa hubungi personil RAN sedikit lebih mudah daripada saya. Anak saya Cheko memang fans berat RAN, khususnya Nino sang vokalis. Di mana RAN tampil selalu diupayakan untuk nonton. Bahkan suatu kali RAn ada jadwal ke studio radio anak muda mangkal disempatkan datang kesana.

Singkat cerita, karena kurang mendapat support dari team di rumah saya kemudian sampaikan hal ini pada sahabat saya yg super duper kreatif dalam banyak hal. Upaya sahabat saya dan tentunya atas ijin Allah keinginan Cheko bisa terwujud. Nino telfon Chika dengan sebelumnya dikerjain sedikit. Saya memang memberikan bocoran dan juga arahan angle (hehehe, yang ini karena kebiasaan dipekerjaan sih). Wah kalau lihat ekspresi wajahnya Cheko setelah tutup telfon dari Nino, saya melihat kebahagiaan yang begitu mendalam. Cheko anak saya adalah tipe anak yang sedikit cuek dan datar dalam bicara, tapi hari itu saya bisa lihat betapa senangnya dia dengan wajah yang berbinar binar mengucap, ‘ya ampun ya ampunnn…aduh Mama aduh Mama, makasih ya makasih’. Tidak ada kalimat sama yang terucap dari bibirnya diucapkan satu kali, semua lebih. Padahal sehari-hari dia termasuk irit dalam bicara. Kejutan itu bukan lagi kejutan manis tapi kejutan manis sekali. Saya yakin hadiah ultahnya kali ini akan jadi memory yang paling berkesan. Terbukti dalam satu minggu, ndak ada habis habisnya ia ceritakan pengalaman tersebut kepada semua orang di rumah & juga teman-temannya. Terharu bisa melihat anak saya yang cuek mampu mengeluarkan ekspresi kebahagiannya. Yang lebih mengharukan ternyata dua hari berturut-turut sebelum hari ultahnya, ia sempatkan sholat tahajud memohon keinginan nya bisa terwujud. Dia berkata pada saya, ‘Mama, aku beruntung aku mau teman-teman ku yang lain juga beruntung. Doa kan ya Ma’.

Ternyata untuk mewujudkan impian, bisa kita lakukan dengan kerja team. Diawali dengan menyampaikan keinginan padaNYA, berdiskusi pada anggota team, jangan putus asa kalau menemukan kendala karena masih ada orang lain yang bisa sepaham dengan kita, yakin kalau itu bisa terlaksana & akhiri dengan Alhamdulillah sebagai rasa syukur. (RiM)